Total Pageviews

Sunday 12 February 2012

Bunda Tanah Melayu – Benteng Jati Diri Anak Negeri

 (catatan perjalanan "fam trip" di Kabupaten Lingga oleh Sapril Sembiring)

Perjalanan ke Lingga di lalui dengan menggunakan sebuah kapal yang berkecepatan tinggi dengan jarah tempuh lebih kurang 4 jam. Untaian pulau pulau sekitar yang bertebaran di sepanjang jalan menuju daerah ini menjadi pemandangan yang mengesankan ditambah lagi kelong kelong “alat tangkap ikan yang berbentuk rumah di bentangan laut nya yang bening turut menjadi daya tarik pandangan mata  dari kapal yang ditumpangi oleh para peserta dan undangan yang mengikuti acara Lawatan Sejarah dan Gelar Budaya Melayu Kabupaten Lingga

Lawatan Sejarah dam gelar Budaya Melayu Kabupaten Lingga merupakan acara yang di prakarsai oleh Pemereintah Kabuptan Lingga melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata . Kegiatan ini bermula dari acara penyambutan di Pelabuhan Tanjung Buton.
Sambutan “tebar beras kunyit’” dan sajian kompang mengawali sambutan masayarakat negeri itu kepada seluruh tetamu yang datang yang baru saja menginjakkan kaki nya di Bunda Tanah Melayu iringian para tetamu pun di sambut dengan sebuah atraksi silat yang menggambarkan kemeriahan dan rasa senang bagi masyarakat setempat atas kunjungan para tetamu
Para tetamu di ajak menuju sebuah bangunan besar yang disana sudah menunggu Bupati dan para pejabat daerah Kabupaten lingga yang dengan hangat menyalami satu persatu tetamu yang datang. Sugguhan makanan ringan menemani para tetamu sambil mendengarkan Bupati Lingga H. Daria menyanyikan lagu Lingga ...... yang merupakan buah hasil karya beliau dibantu dengan beberapa seniman dan penyanyi lokal dari Kabupaten Lingga
Tidak begitu lama para tetamu kemudian di arahkan menuju lapangan Hang Tuah untuk mengikuti prosesi “tepuk tepung tawar” , bagi masyarakat setempat tepuk tepung tawar ini merupakan ritual untuk menyambut tamu dengan hati yang suci dan memohon keberkahaan
Selanjutnya hidangan berupa kue kue lokal dengan minuman khas lokal menjadi santapan yang nikmat yang mempu menghilangkan rasa penat tetamu yang sudah menempuh perjalanan panjang dari daerah asalnya. Tetamu yang hadir ada yang dari Singapura, Malaysia, Brunai, Pekan Baru, Selat Panjang, Jakarta, tanjungpinang dan Kalimantan.
Setelah beristirahat sejenakbersihkan diri di Hotel yang sudah dipersiapkan oleh panitia peserta kemudian di suguhkan dengan hidangan makan malam dengan menu yang khas dengan cita rasa Melayu. Berbagai masakan khas di sajikan di meja prasmanan yang telah tersusun rapi untuk di santap yang mampu meberikan nuansa kembali ke kampung begitulah beberapa peserta terkesan .


Seorang pembawa acara tampil diatas panggung dengan logat Melayu yang kental sang pembawa acara mengundang semua tetamu untuk mengambil tempat di panggung yang sudah dipersiapkan, humor dan pantun yang sangat menghibur di sajikan oleh sang pembawa acara yang membuat acara itu menjadi semarak
Dalam Laporannya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bapak Djunaidi Ajam menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan semangat Kabupaten Lingga untuk menjadi “Bunda Tanah Melayu”. Acara Lawatan Sejarah dan Gelar Budaya Melayu Kabupaten Lingga 2011 di ikuti oleh peserta dari Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, Pekan Baru, Kalimantan dan Tanjungpinang.
Bupati Lingga Bapak H. Daria dalam sambutan sekapur sirihnya menyampaikan Pemerintah Kabupaten Lingga senantiasa berupaya dan bekerja keras agar prediket Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu tersebut semakin kuat-kawi dan diakui secara luas. Seminar bersempena helat bertajuk “Lawatan Sejarah dan Gelar Budaya” yang dilaksanakan pada tahun 2011 ini diharapkan menjadi peristiwa penting dalam upaya menegaskan dan mengukuhkan Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu. 
Sajian kesenian menjadi hiburan yang menambah semaraknya acara tersebut di tambah lagi sajian kesenian “Joget Dangkong” yang di bandu oleh seorang “Bapok” yang kocak dengan lagu dan goyangnya membuat para tetamu yang hadir terpingkal pingkal ketawa. Tanpa terasa malam semakin larut dan akhirnya acara pembukaan pun telah selesai yang waktu nya untuk beristirahat


Pagi itu cuaca agak mendung suasana alam yang segar dengan pemandangan gunung Daik yang konon bercabang tiga namun telah patah satu yang sering dikenang orang melalui pantun

Pulau pandan jauh ke tengah
Gunung Daik Bercabang tiga
Hancur badan di kandung tanah
Budi Baik di kenang jua

Begitulah orang orang mengenang gunung Daik ini yang menurut legenda setempat bahwa Pulau Pandan itu merupakan patahkan cabang tiga gunung tersebut.  Keindahan alam dengan bentangan bukit yang masih hijau dan udara pagi yang segar menjadi hidangan mata yang memberikan ketenangan hati. Di sebuah kedai kopi di pinggiran sungai Lingga menjadi tempat kami untuk menikmati sarapan pagi secangkit kopi dan “kwe tiaw” goreng menjadi hidangan yang kami santap pagi itu. Kami yang tergabung dalam satu rombongan “Media dan Travel Agent Fam Trip” memang terpisah dari jadwal yang utama bagi para sejarahwan, seniman, pelajar dan tokoh tokoh masyarakat dimana khusus bagi mereka jadwal pagi itu akan mengikuti seminar di Balairung Seri yang lokasinya bersebelahan dengan lokasi situs Istana Damnah, sedangkan rombongan kami akan mengunjungi objek wisata desa Resun.



Desa Resun sebuah desa yang terletak di utara Pulau Lingga yang berjarak tidak jauh dari Kota Daik dengan jarak tempuh lebih kurang 30 (tigapuluh ) menit. Di Desa ini kami mengunjungi keindahan alam yang dimiliki Kabupaten lingga yaitu Air terjun Resun. Suara gemuruh air memecah keheningan hutan yang di tumbuhi pepohonan yang rindang. Kebeningnan air nya menggoda kami untuk segera turun dan menikmati kesegaran air yang berasal dari gunung Resun. Keindahan alam yang alami sangat terasa di kawasan ini hanya ada beberapa gubuk atau pondok dan sebuah bangunan toilet yang sudah di bangun oleh Pemerintah Kabupaten Lingga. Menurut pemandu wisata lokal bahwa air terjun resun ini sudah dikenal sejak lama dan sering di selenggarakan event tahun “mandi Syafar” yang menurut masyarakat setempat merupakan ritual yang mampu menjauhkan diri dari bencana dan keburukan. Beberapa dari peserta menyempatkan diri untuk berenang dan menikmati segarnya air asli pegunungan itu.

Matahari sudah mulai tegak di atas kepala sehingga kami pun menuju ke kawasan Istana Damnah sebab di lokasi ini kami dijadwalkan untuk makan siang. Sajian makan siang pun sudah dipersiapkan dengan gaya melayu kuno yaitu “Makan Berkas” yang hal ini sudah jarang di lakukan orang. Sajian makan yang terhidang secara “lesehan” dengan jumlah sajian makan untuk jumlah 5 (lima) orang di gelar di lantai yang beralaskan karpet dan permadani, sekitar 50 berkas atau untuk kapasitas 250 orang makan siang telah tersaji di replika Istana Damnah dengan hiasan kain di dinding dengan warna khas Melayu yaitu Kuning, Merah dan Hijau. Makan siang pun terselesaikan dengan baik dan nikmat yang memberikan kesan tersendiri begitu indahnya adab yang diajarkan oleh para leluhur leluhur yang terdahulu, dalam makan pun ada adab nya.



Program Fam Trip pun di lanjutkan dengan mengunjungi situs Istana Damnah yang lokasinya hanya 50 Meter dari lokasi seminar dilokasi ini masih terlihat pondasi bekas bangunan istana damnah yang pada zamannya sangat memiliki peran penting yang sering digunakan Sultan untuk pertemuan dan acara acara kerajaan. Namun kondisi saat ini yang bisa terlihat hanya pondasi dan bekas tangga depan istana karena bangunan atasnya dahulu terbuat dari papan dan kayu. Di lokasi ini seorang pramuwisata lokal menjelaskan sejarah dan cerita tentang kemegahan dan peran bangunan itu. Perjalanan kami lanjutkan menuju pelabuhan Tanjung Buton untuk menuju ke Pulau Mepar sebuah pulau yang saat ini sedang di gesa dan di kembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Lingga sebagai Desa Wisata. Perjalanan menuju desa ini di tempuh dengan menggunakan “pompong” sebuah perahu kayu dengan mesin dengan jarah tempuh lebih kurang hanya 8 menit saja dari Pelabuhan Tanjung Buton di Pulau Lingga. Sesampainya kami disana kebanggaan kami rasa kan karena di sambut seperti paduka raja atau bangsawan karena di pelabuhan itu sudah berdiri 14 orang ibu ibu dengan senyuman dan semangat yang tinggi menabuh kompang yang dengan suka cita menyambut rombongan yang datang ke negerinya. 




Sekumpulan anak anak dengan senyuman dan keceriaan terpancar di wajah mereka turut berbaris di sisi kiri dan kanan jalan menuju desa menyambut kedaatangan para tetamu. Suara gemuruh kompng yang terus menerus mengiringi perjalanan bersaut sautan dan atraksi silat yang diiringi suara gendang dan gong pun menghadang perjalan kami untuk menunjukan bunga bunga silat yang di miliki oleh seorang pemuda yang gagah dan berani. Dengan gerak dan langkah yang lembut namun kokoh dipertunjukan kepada tetamu sebagai rasa sukacita dan menunjukan kepada tetamu rasa aman dan nyaman begitulah yang dirasakan oleh tetamu yang datang.

Mengunjungi makam dan benteng di pulau ini menjadi beberapa aktifitas yang bisa di lakukan, di sisi lain ada atraksi yang menarik yaitu melihat prosesi “ikan tamban salai” yaitu menjadi kan ikan salai dengan cara memanggang dan mengasapi ikan ikan tamban. 

Seorang ibu separuh bayu di depan perapian dengan barisan ikan ikan tamban membolak balikan ikan ukan yang sudah di tusuk dengan kayu. Proses pengasapan biasanya memakan waktu berjam jam yang apinya tidak begitu besar dengan sabut kelapa untuk mebrikan rasa aroma asap sehingga menempel di ikan ikan yang di panggang. Ikan ikan ini biasanya di jual seharga Rp. 25.000 untuk sekitar 50 ekor ikan dengan ukuran lebih kurang 5 sampai dengan 10 centimeter.

Tari Ambung itulah satu atraksi yang menarik di desa ini karena para pemainnya seolah olah tersugesti sehingga di luar kendalinya keranjang yang di pegang seolah olah bergerak tanpa di gerakkan oleh si pemain tari ambung tersebut. Permainan ini di awali dari pengasapan keranjang dengan sebuah dupa dan kemenyan yang di bakar dengan arang. Diatas keranjang tersebut terdapat 2 buah kayu lesung. Permainan ini biasanya dilakukan masayrakat pada saat malam purnama dan dijadikan sebagai permainan untuk mengisi waktu waktu luant untuk menghibur dan menjaga keutuhan silaturahmi masyarakat setempat.


Keramanhan masyarakat sangat terasa sekali di desa ini dan keramahan itu kami rasakan dengan sajian beberapa makanan ringan yang sudah dipersiapkan disebuah panggung dengan minuman yang terbuat dari timun. Buah pisang, pepaya dan sauh menjadi hidangan yang menyegarkan ditambah lagi ikan tamban salai yang sebelumnya kami saksikan proses pengasapannya telah tersaji untuk santapan para tetamu.

Matahari hampir terbenam di upuk barat sehingga kami pun harus bergegas kembali ke Kota Daik untuk persiapan Malam penutupan. Dengan menggunakan perahu kayu kami pun kembali ke Pulau lingga dan dilanjutkan dengan Bus untuk melihat ataraksi Gasing. 
Permainan gasing ini juga memiliki aturan dimana permainan tradisional bagi masyarakat melayu ini memiliki peraturan dan di mainkan secara berkelompok yang terdiri dari 5 (lima) orang. Konon katanya zaman dahulu permainan ini menggunakan ilmu ilmu kedikjayaan dalam permainan Gasing yang sampai sampai gasing yang selalunya terbuat dari kayu pilihan yang memiliki kekuatan pun bisa terbelah dan pecah ..sungguh menakjubkan. Kesabaran dan ketelitian dituntut untuk permainan ini bagi yang tidak terlatih gasing bisa bisa tidak berputar dan memungkinkan mengenaik orang lain dan berakibat luka.




Malam pun tiba disaat Gerhana Bulan tepatnya tanggal 10 Desember 2011 di Lapangan Hang Tuah Kota Daik menjadi saksi pembacaah Warkah atau pendeklarasian “ Lingga – Bunda Tanah Melayu” dihadapan ratusan orang yang memadati lapangan tersebut. Semangat yang kuat dengan rasa tanggung jawab yang tinggi di harapkan segenap elemen masyarakat dan pemerintah di Kabupaten ini untuk menyandang predikat Bunda Tanah Melayu Benteng Jati diri anak Negeri.





Menurut saya bahwa Lingga memiliki berbagai alasan yang kuat dan mendasar untuk terus menjadikan Negeri ini sebagai Bunda tanah Melayu, Beberapa hal hal yang saya lihat dan rasakan selama mengikuti pLawatan Sejarah dan Gelar Budaya Melayu tersebut yang mampu mendukung predikat Bunda Tanah Melayu antara lain :


  1. Disetiap kamar Hotel tersedia sejadah
  2. Rumah rumah panggung masyarakat masih di hiasi dengan ukiran melayu
  3. Tutur sapa, dan adab masayrakat nya masih kental dengan tradisi melayu yang menerima tetamu (Hospitality)
  4. Logat dan gaya bahasa

 Tahniah dan Sabas kepada Masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Lingga semoga mampu menjadikan negeri nya sebagai benteng Jati diri masyarakat melayu yang bertamadun yang senantiasa kokoh akan tantangan globalisasi yang sedang menghadang .......................


No comments:

Post a Comment